Makalah Ekonomi Tentang Teori siklus bisnis

makalah ekonomi



BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Teori siklus bisnis memiliki peranan penting karena banyak orang yang mempercayai tentang keberadaanya. Namun kepercayaan ini bukanlah kepercayaannya yang permanen. Pada abad 19, siklus bisnis tidak dipikirkan sebagai siklus-siklus melainkan sebagai krisis-krisis yang menganggu perkembangan perekonomian yang mulus. Di tahun-tahun kemudian, ekonom dan non-ekonom mulai mempercayai berulangnya krisis-krisis tersebut, menganalisa bagaimana mereka dapat dipisahkan dan dihubungkan dengan struktur ekonomi yang berubah.

B. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pengantar ekonomi mikro serta untuk menambah wawasan mahasiswa tentang perkembangan teori fluktuasi ekonomi atau siklus bisnis yang sangat erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian suatu Negara khusunya di Indonesia.

C. Rumusan Masalah

Adapun makalah ini dibuat dengan rumusan permasalahan sebagai berikut:
  • Pengertian fluktuasi ekonomi atau siklus bisnis?
  • Tahapan siklus bisnis?
  • Teori siklus bisnis?
  • Siklus ekonomi di Indonesia

D. Metode Penulisan

  • Metode Literatur /  Kepustakaan 

Penulis menggunakan studi kepustakaan dari berbagai sumber berupa media elektronik serta dari buku-buku literatur yang memuat informasi berkaitan dengan teori-teori fluktuasi ekonomi atau siklus bisnis.  

E. Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun secara sistematis terdiri dari 3 bab : 
BAB I Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah,  Tujuan Penulisan, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan. 
BAB II Pembahasan yang terdiri dari Pengertian siklus bisnis, tahapan-tahapan siklus bisnis, teori-teori siklus ekonomi,macam permalan siklus ekonomi. 
BAB III Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran. 
DAFTAR PUSTAKA 

BAB II
PEMBAHASAN


a.  Pengertian Teori Fluktuasi Ekonomi

Teori fluktuasi ekonomi  atau Siklus  Ekonomi (Economic Cycle) atau juga dikenal sebagai Siklus Bisnis (Business Cycle) adalah pola jangka panjang pertumbuhan (ekspansi) dan resesi (kontraksi) ekonomi. Menurut penelitian Centre for International Business Cycle Research di Universitas Columbia New York, antara tahun 1854 dan 1945 ekspansi ekonomi rata-rata berlangsung 29 bulan sementara masa kontraksi berlangsung 21 bulan.

Namun begitu, sejak berakhirnya Perang Dunia II, siklus ekspansi telah memanjang hingga hampir dua kali lipat, yaitu rata-rata 50 bulan, sementara siklus kontraksi memendek hingga rata-rata berlangsung 11 bulan.  Di sepanjang masa, para ekonom telah mencoba mencari penyebab fluktuasi ekonomi, namun belum ada satu jawaban yang bisa menjawab semua pertanyaan.

Di antara pola umum siklus bisnis, terdapat pula beberapa siklus khusus, di antaranya: siklus Kitchin yang berlangsung 39 bulan dan terkait dengan fluktuasi volume persediaan (inventory) perusahaan.  Ada pula siklus Juglar, yang berlangsung 8-9 tahun sebagai konsekuensi dari perubahan pola investasi pada pabrik dan mesin.  Selanjutnya juga terdapat siklus Kuznets yang terkait dengan siklus pemilikan dan pembangunan perumahan, dan selanjutnya adalah siklus terpanjang yang paling terkenal - yaitu Siklus Kondratieff yang berlangsung setiap 50 tahun.

Ekonom Austria, Friedrich Hayek berbeda pendapat dengan John Maynard Keynes dalam mencoba menjawab masalah siklus bisnis.  Bagi Keynes, investasi bisnis bersifat random dan lebih banyak didorong oleh "Animal Spirit", sesuatu yang dibantah oleh Hayek.  Selanjutnya pada tahun 1974 Friedrich Hayek memperoleh penghargaan Nobel Ekonomi dari pengamatan dan teorinya mengenai Siklus Bisnis - yang menyatakan bahwa variasi pada output ekonomi (siklus) tergantung pada struktur modal yang mendorong proses ekonomi bersangkutan.

Berbeda pendapat dengan Hayek, pada akhir tahun 1960-an, Arthur Okun, salah seorang penasihat ekonomi pada pemerintahan presiden Kennedy dan Johnson - menyatakan bahwa siklus bisnis sudah "punah".  Malang bagi Okun - setahun setelah menyatakan hal tersebut - ekonomi Amerika mengalami resesi.

Apa yang disampaikan Okun terulang kembali pada akhir tahun 1990-an -- ketika beberapa ekonom menyatakan bahwa inovasi teknologi dan globalisasi telah membuat siklus bisnis menjadi nihil.  Dan sebagaimana kita ketahui - pada awal abad ke 21 dunia pun mengalami resesi ekonomi pasca serangan di kota New York. Agaknya, siklus bisnis memang terlalu prematur diramalkan kematiannya.

Menurut Schumpeter yang bernama panjang (Joseph Alois Schumpeter) Bahwa “Secara Alami, tidak semua siklus ekonomi beroperasi dalam ukuran yang sama (the same yardstick). Klasifikasi berikut, yang pada awalnya diciptakan Schumpeter (1939), membedakan mereka berdasarkan durasinya (dasar ke dasar atau puncak ke puncak):

  • Siklus musiman – dalam setahun
  • Siklus Kitchin – tiga tahunan
  • Siklus Juglar – 9-10 tahunan
  • Siklus Kuznets – 15-20 tahunan
  • Siklus Kondratiev – 48-60 tahunan

Schumpeter juga menggambarkan “empat fase” dari suatu siklus: boom – resesi – depresi – Recovery (Pemulihan) Dimulai dari mean, boom merupakan kenaikan yang berlangsung hingga puncak dicapai; resesi merupakan penurunan dari puncak kembali ke mean. Depresi merupakan penurunan dari mean menuju dasar. Recovery merupakan kenaikan dari suatu dasar kembali ke mean. Dari mean, kita bergerak ke puncak lain yang merupakan awal dari siklus empat fase lainnya. Dalam hal ini, siklus dalam durasi apapun dapat digambarkan dengan empat fase tersebut – jika tidak fluktasi tersebut tidak benar-benar merupakan siklus.

Para ahli berpendapat  tentang teori siklus bisnis yaitu bahwa ekonomi melalui gelombang aktivitas perekonomian. Bagaimanapun, apa yang benar-benar menyebabkan perekonomian menimbulkan aktivitas tersebut merupakan sumber dari perdebatan dan pemikiran imaginatif.

Seperti semua ahli siklus bisnis lama, kita harus terbiasa pada beberapa fakta empiris. Pertama dan yang terpenting, bukti empiris menunjukkan bahwa selama abad 19, tingkat harga naik turun drastis sementara output lebih sedikit terkena fluktuasi. Oleh sebab itu, analisis awal dari ‘siklus-siklus’ didasarkan terutama pada definisi mereka sebagai gerakan tingkat-tingkat harga dan bukan output. Akan tetapi, selama abad dua puluh, selain beberapa pengecualian, apa yang dikatakan siklikal merupakan gerakan dari output pada saat resesi dan depresi, output akan turun rendah, pada saat recovery dan boom, output akan meningkat. Oleh sebab itu, mendefenisikan siklus atau krisis sebagai gerakan dari output merupakan fenomena yang relatif baru.

Kita mengasumsikan bahwa tingkat Output alami tumbuh lebih lancar sepanjang waktu (seperti dijelaskan model pertumbuhan solow) dan bahwa kebanyakan fluktuasi jangka pendek merupakan deviasi dari tingkat alami (seperti dijelaskan oleh model permintaan agregat dan penawaran agregat).
Hampir seluruh analisis makroekonomi didasarkan pada premis bahwa harga menyesuaikan untuk membersihkan pasar (clear the markets). Karena teori siklus bisnis riil mengasumsikan fleksibilitas harga, teori ini konsisten dengan dikotomi klasik; dalam teori ini, variabel-variabel nominal, seperti penawaran uang dan tingkat harga; tidak mempengaruhi variabel riil, seperti output dan kesempatan kerja.

Permintaan agregat adalah determinan primer pendapatan nasional dalam jangka pendek. Dalam menunjukkan bekerjanya kedua aliran pemikiran, ba ini mengambil pendekatan yang lebih bersifat deskriptif dibanding analistis.

Teori Siklus Bisnis Riil

Dalam pertumbuhan model solow, perekonomia mendekati kondisi mapan dimana sebagian besar variabel tumbuh bersama-sama pada tingkat yang ditentukan oleh tingkat kemajuan teknologi konstan. Mungkin juga ada goncangan atas perekonomian yang mendorong fluktuasi jangka pendek dalam tingkat output dan kesempatan kerja alamiah.

Robinson Crusoe adalah seseorang pelaut yang terdampar di pulau gersang. Fluktuasi dalam output, kesempatan kerja, konsumsi, invstasi dan produktivitas adalah tanggapan alamiah dan diinginkan dari individu atas perubahan-perubahan yang tidak dapat dihindari dalam lingkungannya. Menurut teori siklus bisnis riil, fluktuasi dalam perekonomian kita banyak kesamaannya dengan perekonomian Robinson Crusoe. Goncangan terhadap kemampuan kita untuk memproduksi barang dan jasa (seperti perubahan cuaca) di Pulau Crusoe) mengubah tingkat output dan kesempatan kerja alamiah).

  • Terdapat empat isu dasar yang menjadi pusat perdebatan, yaitu :
  • Interpretasi pasar tenaga kerja : apakah fluktuasi dalam kesempatan kerja mencerminkan perubahan dalam kuantitas tenaga kerja yang ditawarkan?
  • Pentingnya goncangan teknologi : apakah fungsi produksi perekonomian mengalami pergeseran eksogen yang besar dalam jangka pendek
  •  Netralitas uang : apakah perubahan dalam penawaran uang hanya memiliki efek nominal ?
  • Fleksibilitas upah dan harga menyesuaikan dengan cepat dan utuh untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan?


Interpretasi Pasar Tenaga Kerja

Teori siklus bisnis riil menekankan gagasan bahwa jumlah tenaga kerja yang ditawarkan pada waktu tertentu bergantung pada insentif yang diterima para pekerja, seperti halnya Robinson Crusoe mengubah cara kerjanya secara sukarela dalam menanggapi kondisi yang berubah. Keinginan untuk merealokasi jam kerja disebut subtitusi tenaga kerja antar waktu (intertemporal subtitution of labor). Jika upah secara temporer tinggi atau jika tingkat bunga tinggi, itu adalah waktu yang baik untuk bekerja. Jika upah secara temporer rendah atau jika tingkat bunga rendah, itu adalah waktu yang baik untuk menikmati waktu senggang.

Teori siklus bisnis riil percaya bahwa fluktuasi dalam kesempatan kerja tidak mencerminkan perubahan dalam jumlah orang yang ingin bekerja. Mereka percaya bahwa kesempatan kerja yang diinginkan sangat tidak sensitif terhadap upah riil dan tingkat bunga riil. Sebagai jawabannya, para pendukung teori ini berpendapat bahwa statisti pengangguran sulit di interpretasi. Satu-satunya fakta adalah tingkat pengagguran tinggi tidak berarti bawah subtitusi tenaga kerja antar waktu adalah tidak penting.

Pentingnya Goncangan Teknologi

Menurut model ini, output dan kesempatan kerja turun selama resesi karena teknologi produksi menurun, yang mengurangi output dan insentif untuk bekerja. Mereka berpendapat bahwa ada banyak peristiwa, meskipun tidak teknologi secara harfiah, mempengaruhi perekonomian sebagaimana halnya goncangan teknologi. Sebagai contoh, cuaca yang buruk, memberlakukan aturan lingkungan yang ketat, atau naiknya harga minyak dunia memiliki dammpak yang sama untuk menekan perubahan dalam teknologi.

Netralitas Uang

Teori siklus bisnis riil mengasumsikan bahwa uang dalam perekonomian kita adalah netral, bahkan dalam jangka pendek. Yaitu, kebijakan moneter diasumsikan tidak mempengaruhi variabel-variabel riil seperti output dan kesempatan kerja. Netralitas uang tidak sekadar nama, tapi netralitas juga merupakan asumsi yang paling radikal dari teori itu. Para pendukung teori itu mengklaim bahwa penawaran uang adalah endogen : fluktuasi dalam output dapat menyebabkan fluktuasi dalam penawara uang.

Fleksibilitas Upah dan Harga

Teori siklus bisnis riil mengasumsikan bahwa upah dan harga menyesuaikan dengan cepat untuk membersihkan pasar. Para pengeritik menunjukkan bahwa banyak upah dan harga tidak fleksibel. Mereka percaya bahwa infleksibilitas ini menjelaskan eksistensi pengangguran dan non netralitas uang.

Ilmu Ekonomi Keynesian Baru

Banyak ekonom bersikap skeptis terhadap siklus bisnis riil dan percaya bahwa fluktuasi jangka pendek dalam output dan kesempatan kerja menunjukkan deviasi dari tingkat wajar perekonomian mereka menganggap deviasi itu terjadi karena upah dan harga lambat menyesuaikan dengan kondisi ekonomi yang berubah.

Kecilnya Biaya Menu dan Eksternalitas Permintaan Agregat

Salah satu alasan mengapa harga tidak langsung melakukan penyesuaian dalam jangka pendek adalah adanya biaya penyesuaian harga. Biaya penyesuaian harga ini, disebut biaya menu (menu cost), membuat perusahaan menyesuaikan harga secara periodik bukan secara terus-menerus.

Ketika menurunkan haraga, suatu perusahaan menurunkan tingkat harga agregat dan meningkatkan keseimbangan uang riil.kenaikan dalam keseimbangan uang riil memperbesar pendapatan agregat (dengan menggeser kurva LM keatas). Dampak makro terhadap penyesuaian harga sebuah oerusahaan atas permintaan untuk seluruh produk perusahaan disebut eksternalitas permintaan agregat (agregat-demand externality). Maka, harga yang kaku mungkin optimal bagi mereka yang menetapkan harga, meskipun harga yang kaku tidak diharapkan untuk perekonomian secara umum.

Resesi Sebagai Kegagalan Koordinasi

Beberapa ekonom Keynesian menyatakan bahwa resesi disebabkan oleh kegagalan koordinasi. Masalah koordinasi bisa muncul dalam penetapan upah dan harga karena mereka yang menentukan upah dan harga harus mengantisipasi para penentu upah dan harga lainnya. Esensi dari perumpamaan ini adalah bahwa keputusan perusahaan mempengaruhi kumpulan hasil yang tersedia untuk perusahaan lain. Moral cerita ini adalah bahwa harga dapat menjadi kaku hanya karena orang mengharapkan seperti itu, meskipun kekakuan tidak berada dalam kepentingan siapapun.

Pengejutan Upah dan Harga

Pengejutan (stragging) menurunkan proses koordinasi dan penyesuaian harga. Biasanya, pengejutan membuat seluruh tingkat upah dan harga melakukan penyesuaian secara berangsur-angsur, bahkan bila upah dan harga individu sering berubah. Pengejutan juga mempengaruhi penetapan harga. Penawaran uang yang lebih kecil menurunkan permintaan agregat, yang selanjutnya membutuhkan penurunan proporsional dalam upah nominal untuk mempertahankan kesempatan kerja. Dengan kata lain, penetapan upah individu yang dikejutkan membuat seluruh tingkat upah sulit berubah.


b. Anatomi  siklus ekonomi

Yaitu tahap kegiatan ekonomi dalam perkembangan  atau pertumbuhan yang cepat sampai tecapai puncak kegiatan (masa “boom” atau masa “hause”=konjungtor tinggi) 

  • Tahap resesi=kelesuan

Yaitu semula kemacetan yang timbul menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi terhenti (stagnasi) Dan/atau mundur sedikit Jika berlangsung lama Dan hebata, dimana semua factor ekonomi ikut lesu maka kelesuan menjadi kemerosotan.

  • Tahap depresi=kemerosotan

Yaitu kemerosotan yang disebabkan antara lain banyak produksi berkurang, banyak pabrik tutup banyak terjadi penganguran (baisse atau konjungtor rendah). Tetapi akhirnya keadaan berubah lagi (titik balik bawah/trough)

  • Tahap Recovery/Revival=Pemulihan

Yaitu tahap yang mulai pulih kembali normal

c. Indikator analisis ekonomi

Pertumbuhan atau jumlah output riil serta tingkat harga. Durasi siklus Dan factor-faktor yang mempengaruhinya 

1. siklus jangka pendek (Kitchin Cycle), durasi 40 bulan factor yang mempengaruhi : Custum Dan nature
Pengaruh alamiyah (Nature): iklim, pengaruh sinar matahari, curah hujan, kekuatan,angin,gelombang laut mempengaruhi aktivitas ekonomi.
Pengaruh adapt istiadat (custum) : perayaan hari raya mempengruhi permintaan masyarakat.

2. Siklus Menahga (Juglar Cycle) 
Penemu : Clement Juglar (1860)
Durasi :7-11 tahun, factor yang mempengaruhi: sunspot
William Stanley jevon menjelaskan : siklus ekonomi di bumi (perekonomian di inggris) dipengaruhi oleh factor eksternal, yaitu bintik matahari (sunspot) yang berdaur ulang 11 tahu  sekali, dimana akan mempengaruhi iklim/cuaca, sehoingga mempengaruhi output perekonomian, Dan muaranya akan mempengaruhi output perekonomian nasional.

3. Siklus jangka panjang (kondratief Cycle)
Penemu: Niolai D. Kondrtief (1925),durasi 48-60 tahun
Factor yang mempengaruhi:invention Dan innovation
Schumpter  menunjukkan bahwa siklus jangka panjang yag dialami di AS tahun 1787-1842 dipengaruhi oleh penemuan Dan penerapan teknologi baru mesin uap, Dan melahirkan evolusi industri. Siklus panjang tahun 1843-1897 disebabkan penemuan kereta api.


d. Teori penyebab gelombang konjungtor 

  • Jevons Dan moore (1923): fluktuasi ekonomi tejadi karena adanya perubahan alam
  • Pigou (1927): fluktuasi kegiatan ekonomi terjadi karena adanya factor psikologis para pelaku bisnis (harapan pesimis atau optimis)
  • MAlthus (1936): penyebab munculnya krisi ekonomi karena adanya kekurangan konsumsi (under Consumpmtion). Alasan :sector industri manufaktur makin berkembang Dan masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan ekonomi pada sector tersebut .
  • Mitchell (1951): Fluktuasi kegiatan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari system ekonomi kapitalis-liberalis.
  • Hawtrey (1928) Dan Fiedman (1957) : fluktuasi ekonomi disebabkan oleh system moneter Dan system kredit.
  •  Schumter (1934) menyebutkan penyebab utama tida stabilnya inovasi teknologi.
  • Lucas Dan Barro (1976) Fisher (1979) Dan Phelps(1997): ekspektasi masyarakat yang rasional sebagai penyebab fluktuasi ekonomi.
  • Keynes : system moneter Dan kredit bukan penyebab, tetapi merupakan akibat penyebab utamanya adalah tidak stabilnya investasi.
  • Siklus konjungtor kegiatan ekonomi menurut Ellis (1991) berbeda-beda.
  • Kondratif: setiap 50 tahun sekali
  • Juglar :11 tahun sekali
  • Kitchin :4 tahun sekali
  • Batra (1990): 6 tahun sekali 
  • Mubyarto : 7 tahun seklai untuk perekonomian Indonesia (jawa: pitulungan) 


Siklus ekonomi, dan kesempatan kesempatan, kerja Dan inflasi
Siklus ekonomi Dan kesempatan kerja berhubungan positif.
Jangka pendek , siklus ekonomi kesempatan kerja tingkat penganguran
Asumsi: teknologi konstan, barang modal tetap, Dan tenaga kerja adalah variable yang berubah.
Jika output riil < output natural tingkat pengannguran meningkat  > ti ngkat penganguran natural, Dan sebaliknya.jika output riil = Output natural tingkat pengganguran meningkat = tingkat penganguran natural
Siklus ekonomi Dan inflasi
Jika output riil < output natural  inflasi Dan sebaliknya 

e. Pengelolaan siklus ekomomi

Untuk menkan dampak negatife dari siklus ekonomi maka diperlukan kebijakan jangka pendek Dan jangka panjang di bidang moneter Dan fiskal.
  • Kebijakan jangka pendek 
  • Target utama mengatasi output gap, Untuk mempengaruhi permintaan Dan penawaran agregat jangka pendek , stimulasi permintaan.
  •  Kebijakan jangka panjang
  • Target utama : mencapai pertumbuhan yang tinggi Dan memperkecil simpangan pertumbuhan ekonomi,Untuk stimulasi penawaran.


f.   Siklus ekonomi di Indonesia

Penafsiran gerak siklus ekonomi di Indonesia dari segi indikator PDB riil Dan pertumbuhan ekonomi dengan periode pengamatan PJPTI (1969-1995) Dan periode 1990-an Periode 1969-1995 Perekonomian di Indonesia selama 1969-994 terus mengalami pertumbuhan , tidak mengalami kontraksi (pertumbuhan negative). Kondisi terburuk dialami pada tahun 1982  dengan pertumbuhan ekonomi 2.3 % Dan 1985 dengan pertumbuhan jangka panjang PJP1,PDB riil meningkat sekitar 6x lipat, di tahun 1969 PDB riil baru mencapai Rp 49 triliun Dan di tahun 1995 menjadi Rp 275 triliun. Tejadi peningkatan PDB riil dari tahun 199 ke 1997, yaitu RP 263triliun menjadi  RP 423 triliun


- Indikator pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Indonesiaselama PJP1 (1969-1995) adalah 6.8% pertahun,
Fluktuasi pertumbuhan yang lebih rendah dapat dilihat pada tahun –tahun berikut.
`975=5%, 1979=6.2%, 1982=2.3%, 1985=2.4%, 1987=4.9%, 1993=6.5%, 1994=6.5%,. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai pada tahun 1973 sebesar 11.4% Dan terendah pada tahun 1982 sebesar 2.3% pertahun.
Fluktuasi pertumbuhan  ekonomi Indonesia disebabkan oleh factor external, yaitu oil boom (1971-1973) Dan resesi dunia (1982).Oil boom meningkatkan pendapatan dari export minyak Dan resei telah menurunkan permintaan ekspor terhadap Indonesia hamper sepanjang 1980-an perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan dibawah rata-rata PJP 1, tetapi memasuki tahun 1990-an pertumbuhan meningkat kembali. Tahun 199-1997 sekitar 7.4%
- Periodisasi Pengamatan
  • Masa orde lama : 1945-1966
  • Masa orde Baru : 1966-1999
  • Masa Reformasi :1999-20…
Masa orde lama
  • Perang kemerdekaan berakhir (tahun 1945-1949): Pengakuan terhadap RIS
  • Pembangunan dititik beratka pada “Nasional Building
  • Peran pemerintah dalam perekonomian sangat dominan
  • Pengeluaran pemerintah terkonsentrasi untuk tujuan politik Dan keamanan Dan ketertiban
  • Anggaran belanja defisit, ditutup dengan mencetak uang, mengakibatkan inflasi sangat tinggi
  • Diperparah dengan beredarnya berbagai jenis mata uang, uang de Javasche Bank,uang pemerintah belanda, uang NICA,ORI, Dan berbagai jenis uang local (URIPS-sumatra,URITA*TApanuli, URPSU-Sumatera/Aceh,URIBA Aceh,URIDAP-Banten,uang Mandat-Palembang.

Kebijakan moneter (tahun 1950)
Tujuan
-memperbaiki posisi neraca pembayaran
- Pengendalian harga
-menggali sumber pendapatan pemerintah untuk menutup deficit anggaran
Tahun 1959:
Dilakukan apenurunan nilai uang (sanering) pecahan 500 Dan RP1000 masing-masing menjadi Rp50 Dan RP100, Giro Dan deposito diatas Rp25000 dibekukan Dan diganti dengan pinjaman jangka panjang
Kurs:US$ 1 = Rp 45
Kondisi tahun196-an
  • Mulai tahun 1960 proyek politik pemerintah meningkat
-       Konfrontasi dengan Malaysia
-       Penyelenggaraaan Asian Games
-       Penyelenggaraan Pekan Olahraga (GANEFO)
-       Pembebasan Irian Barat dari Belanda
·         Tahun 1965: Bank Indonesiasebagai Bank berjuang bersedia menutupi defisit anggaran pemerintah dengan mencetak uang baru.
·         Inflasi sangat tinggi (Tahun 1965 sebesar 635%)
·         Desember 1965 terjadi krisis politik : pergantian pemerintah dari orde lama ke orde baru
Masa Orde baru
  • Masalah yang dihadapi
-       Tidak mampu membayar utang
-       Defisit Neraca Perdagangan
-       Anggaran Pemerintah deficit
-       Inflasi tinggi (635%)
-       Buruknya Prasarana ekonomi
  • Upaya yang dilakukan
-       Pengendalian Inflasi
-       Penyediaan bahan pangan, terutama beras
-       Rehabilitas prasarana ekonomi
-       Meningkatkan Ekspor
-       Menciptakan lapangan kerja
-       Perbaikan iklim investasi, terutama investasi asing
-       Pelaksanaan pembangunan berencana (PELITA): Trilogi Pembangunan
Titik berat  Politik Orde Baru
Mengejar pertumbuhan tinggi Dan pemerataan pendapatan melalui “Tickle down effect”
Memberikan segala kemudahan seperti perijinan, perlindungan bea masuk, kredit bank, peruntukkan lahan dsbnya untuk mendukung pengembangan usaha besar

Masa Orde Baru
  • 1966-1970: Masa Stabilisasi (Recovery)
-       Menjalankan kebijakan anggaran belanja seimbang
-       Mendorong investasi (tahun 1968: UUPMA Dan UUPMDN)
-       Menata system perbankan nasional (UU No. 1968 tentang Bank Sentral Dan UU No. 14 tahun 1967 tentang bank umum)
  • Tahun 1970: tercipta stabilitas ekonomi nasional. Inflasi dapat ditekan
-       tahun 1967 112%
-       tahun 1968 85 %
-       tahun 1969 10%
-       tahun 1971 2.5 %
  • Mulai dilaksanakan kebijakan industrialisasi di Indonesia (industri subtitusi impor)
Mulai diterapkannya rencana pembangunan yang berkesinambungan (Repelita 1)
  • 1973/1974: Bonansa Minyak (Oil Boom)
Harga minyak dunia meningkat 400%
Penerimaan Negara naik (­+48%), inflasi naik (+ 58%)
Peran minyak dominant, non migas tertinggal
Peranan swata dalam perekonomian kecil
Kebijakan mengatasi inflasi, Bank Indonesiamelakukan intervensi ekonomi :
-       Menetapkan pagu (batas tertinggi) kredit
-       Menaikkan suku bungan pinjaman
-       Menaikkan cadangan minimum perbankan
-       Menaikkan suku bunga deposito berjangka
-       Melarang bank pemerintah menerima deposito berjangka yang dananya berasal dari luar negeri
Inflasi dapat ditekan
-       1974/1975 : 21%
-       1977/1978 : 19%
-       1980-an : Masa resesi
-Terjadi over suplay minyak dunia, menyebabkan harga minyak turun
- Terjadi deficit perdagangan luar negri amerika
- Terjadi kenaikan harga mata uang yen Dan jepang terhadap dollar amerika (Yendaka)
- Pendapatan negar turun, hutang Negara (dalam mata uang yen ) naik
- Terjadi upaya Penyesuaian (Devaluasi, deregulasi, Penghematan)

Masa Deregulasi
  • 1983 (1 juni) : Deregulasi Perbankan
Bank bebas menentukan bunag Dan pagu kredit
  • 1984 : Deregulasi bidang fiscal
UU pajak baru (prinsip self Assesment)
  • 1985: Deregulasi bidang perdagangan
Penurunan tariff bea masuk (0 s/d 225% menjadi s/d 6%)
  • 1986 : Sistem pengembalian bea masuk
  • 1987 : tranparasi alokasi kuota tekstill
  • 1988 : Penghapusan monopoli impor plastic Dan baja
  • 1990 : Masa perekonomian kepanasan (Over Heated)

Kinerja Bank menurun
·         Capital Adequacy Ratio (CAR) Rendah
·         Lend Deposit Ratio (LDR)

Kredit banyak yang macet
Upaya mengatasi
-       TIgh money Policy (Kebijakan uang ketat)
-       Pengendalian mega proyek
-       CAR 8% (paling lambat 1993) Dan LDR maks 10%

·         1995/1996 : Indonesia macan asia baru  (NICs)
·         1996/1997 : awal krisis moneter

Kondisi makro ekonomi in donesia tahun 1997/1998
- Nilai rupiah merosot (tinggal 85% dari semula)
- Inflasi meningkat tajam (des 1998 mencapai 77.6%)
- Kontraksi ekonomi (sebesar -13.2%)
- Investasi dalam negroi menurun, kecuali investasi asing
- Suku bunga meningkat (SBI 1 bulan : 70 %)
- Ekspor Dan impor turun (kecuali ekspor pertanian)
- Transaksi berjalan surplus
- Terjadi pemindahan modal dalam negri ke luar (Capital Flight)sebesar 10%-15% dari PDB (lebih dari US$ 25 milyar)
- Cadangan devisa turun (maret 1997 sebesar US$ 26.6 milyar, maret 1998 sebesar US$ 13.2 milyar,maret 1999 sebesar US$ 15.8 milyar)
- Uang primer meningkat (tahun 1996 sebesar 8.1 % terhadap JUB: tahun 1997 sebesar 26.4% Dan tahun 1998 sebesar 41.4%)

Upaya Pemulihan Ekonomi (tahun 1999)
Penyehatan kerangka ekonomi
·         Pengendalian inflasi isaran 20%
·         Transaksi berjalan diupayakan surplus untuk membantu membayar hutang

Revisi APBN dengan parameter baru
·       Defisit diusahakan berkisar 1% drai PDB
·   Peguranagn subsidi di bidang energi (terutam BBM), namun tetap memberi perlindungan rakyat miskin
Transparasi kebijakan fiscal
·   Dana reboisasi dimasukkan dalm APBN
Proyek Swasta
·    Penjadwalan kembali 12 proyek infrastruktur
·         Dana Negara untuk IPTN dihentikan,proyek N_2130 didanai asing Dan perbankan
·         Pencabutan perlakuan khusus Dan fasilitas kredit bagi proyek mobnas
Penegasan Kebijakan Moneter
·         BI di beri otonomi penuh dalam menentukan kebijakan moneter Dan suku bunga
·   Pemerintah memberi dukungan penuh pada bank swasta Dan pemerintahuntuk merger
- Restrukturisasi sector perbankan Dan sector swasta
- Restrukturisasi structural

Bagaimana kondisi perekonomian RI saat ini ?
Resesi dapat dilihat dari ciri:
- Ekspor tersendat, capital flight,IHSG turun drastis, kurs rupiah turun drastic
Dampak : semuanya mengerem pembelian, permintaan menurun, produksi dikurangi, phk menigkat, daya beli turun, permintaan menurun, omset menurun, investasi dikurangi lagi Dan seterusnya.
Pengelolaan siklus resesi oleh pemerintah : kebijakan “anti siklis”.
Tetapi harus menganalisis masalah terlebih dahulu karena tipologi dari krisis yang merupakan tipe the upper turning point sanagt bervariasi. Tipe titik balik tertinggi atau krisis  mewarnai resesi yang dimasukinya. Pengenalannya sangat penting untuk mengetahuinya, apakah kita memang mempunyai instrument-instrumen untuk membendung arus yang tidak kita kehendaki, ataukah kita dihadapkan pada keterbatasan.


BAB III
PENUTUP
  
  1. Kesimpulan

Kesimpulan
Perkembangan terbaru dalam teori fluktuasi ekonomi jangka pendek mengingatkan bahwa kita tidak memahami flktuasi ekonomi sebaik yang kita kira. Para ekonom yang percaya bahwa upah dan harga adalah kaku/ sulit berubah. Kekakuan harga adalah bentuk ketidaksempurnaan pasar, dan ia membuka kemungkinan bahwa kebijakan pemerintah dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi untuk seluruh masyarakat.

Sebaliknya, teori siklus bisnis riil menyatakan bahwa pengaruh pemerintah atas perekonomian terbatas dan bahkan kalaupun mampu menstabilkan perekonomian, pemerintah seharusnya tidak mencobanya. Menurut teori ini, turun naiknya siklus bisnis adalah tanggapan perekonomian yang wajar dan efisien terhadap kemungkinan perubahan teknologi. Model siklus bisnis riil standar tidak mencakup jenis ketidaksempurnaan pasa apapun.

Para ekonom berbeda dalam potongan bukti mana yang mereka temukan paling meyakinkan, sehingga teori fluktuasi ekonomi tetap menjadi sumber perdebatan hangat. Teori siklus bisnis riil sangat menekankan optimasasi antar waktu dan prilaku memandang kedepan, sedangkan Keynesian baru menekankan pentingnya harga yang kaku dan ketidak sempurnaan pasar yang lain. Dengan demikian, teori-teori diperbatasan riset menggabungkan banyak elemen ini untuk mengembangkan pemahaman kita tentang fluktuasi ekonomi.

0 comments

Post a Comment