10 Ekor Buaya di Laut Cilacap Mengemparkan Dunia Maya di Facebook

BUAYA DI CILACAP BUKAN BERASAL DARI SUNGAI SERAYU



Kabar mengenai kemunculan buaya muara tersebut sebenarnya sudah beredar sejak beberapa hari lalu. Bahkan, kami sempat mendapat kabar kalau jumlah buaya yang muncul terdapat 7 ekor namun informasi ini belum di benarkan Kata  Ketua MMP Kota Cilacap  Bpk. Tramuji .

Ia  Menjelaskan Pihaknya baru bisa memastikan kebenaran kabar tersebut pada hari Minggu Tanggal 12 Mei 2019 Sekitar Pukul 04:00 Salah satu seorang MMP Nusakambangan Melihat buaya muara tersebut yang di perkuat dengan bukti foto dan Vedeo  yang berdurasi hinga 8 menit.

Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengimbau nelayan untuk mewaspadai kemunculan buaya muara di wilayah perairan sekitar kota Cilacap.

“Kabar mengenai kemunculan buaya muara tersebut sebenarnya sudah beredar sejak beberapa hari lalu. Bahkan, kami sempat mendapat kabar kalau jumlah buaya itu diperkirakan mencapai tujuh ekor, namun masih berupaya mengembangkan kebenaran informasi tersebut,” kata Ketua MMP Kabupaten Cilacap Tarmuji. di Cilacap, Minggu.

Ia mengatakan pihaknya baru bisa memastikan kebenaran kabar tersebut pada hari Minggu (12/5), sekitar pukul 04.30, setelah salah seorang anggota MMP Nusakambangan melihat buaya muara tersebut yang diperkuat dengan foto dan video.

Dalam video yang diambil dari arah Dermaga Khusus PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (dulu PT Holcim Indonesia Tbk., red) yang berada di dekat Dermaga Wijayapura, Cilacap, terlihat seekor buaya muara sedang berenang di perairan antara Pulau Nusakambangan dan kota Cilacap.

Demikian pula dalam foto yang diambil dari atas perahu ke arah Dermaga Khusus PT Solusi Bangun Indonesia Tbk., terlihat seekor buaya yang sedang berenang di perairan sekitar Nusakambangan.

Terkait dengan hal itu, Tarmuji mengimbau nelayan di sekitar Bengawan Donan, Jojok, Kampung Laut, dan Sentolo Kawat, Cilacap, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap buaya muara tersebut.

“Buaya muara yang diperkirakan berasal dari muara Sungai Citanduy, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, itu bisa berkeliaran ke Kampung Laut hingga ‘jongoran’ Teluk Penyu di dekat Benteng Pendem,” kata dia yang juga Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang, Pantai Teluk Penyu.

Terkait dengan kejadian itu, dia mengatakan pihaknya telah melaporkan kemunculan buaya muara tersebut ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah Seksi Konservasi II Wilayah II Pemalang-Cilacap Resor Konvervasi Wilayah Cilacap.

“Kami masih menunggu instruksi lebih lanjut dan rencananya pada hari Senin (13/5), kami akan melakukan penyisiran bersama BKSDA,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Koordinator Polisi Kehutanan (Polhut) BKSDA Jateng Resor Konservasi Wilayah Cilacap Endi Suryo Heksianto mengatakan pihaknya masih berkonsultasi dengan pimpinan BKSDA terkait dengan tindakan yang akan dilakukan terhadap buaya muara tersebut.

Buaya di Laut Cilacap

Menurut dia, pihaknya melakukan tindakan sementara di lapangan dengan memantau pergerakan buaya muara tersebut.

“Kita ingin tahu perilaku buaya ini biasanya berada di mana, langkah berikutnya menunggu koordinasi dari pimpinan,” katanya.

Dengan demikian ketika buaya muara tersebut akan ditangkap, kata dia, pihaknya sudah memiliki data perilaku satwa tersebut.

Disinggung mengenai dugaan buaya muara tersebut berasal dari Sungai Citanduy, dia mengatakan pihaknya belum bisa memastikannya karena masih mencari informasi lebih lanjut.

“Kemarin (Sabtu) sore, kami betul-betul menyaksikan itu (buaya) ada di sekitar Donan dan Holcim. Hari ini pun teman-teman ke lapangan untuk mengecek. Mungkin hari Senin (13/5), kita akan ke lapangan bersama mitra kami, Mitra Polhut, di Nusakambangan untuk mencari informasi yang lebih banyak,” katanya.

Buaya di Laut Cilacap bukan dari Suangai Serayu

BUAYA DI CILACAP BUKAN BERASAL DARI SUNGAI SERAYU



Kabar mengenai kemunculan buaya muara tersebut sebenarnya sudah beredar sejak beberapa hari lalu. Bahkan, kami sempat mendapat kabar kalau jumlah buaya yang muncul terdapat 7 ekor namun informasi ini belum di benarkan Kata  Ketua MMP Kota Cilacap  Bpk. Tramuji .

Ia  Menjelaskan Pihaknya baru bisa memastikan kebenaran kabar tersebut pada hari Minggu Tanggal 12 Mei 2019 Sekitar Pukul 04:00 Salah satu seorang MMP Nusakambangan Melihat buaya muara tersebut yang di perkuat dengan bukti foto dan Vedeo  yang berdurasi hinga 8 menit.

Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengimbau nelayan untuk mewaspadai kemunculan buaya muara di wilayah perairan sekitar kota Cilacap.

“Kabar mengenai kemunculan buaya muara tersebut sebenarnya sudah beredar sejak beberapa hari lalu. Bahkan, kami sempat mendapat kabar kalau jumlah buaya itu diperkirakan mencapai tujuh ekor, namun masih berupaya mengembangkan kebenaran informasi tersebut,” kata Ketua MMP Kabupaten Cilacap Tarmuji. di Cilacap, Minggu.

Ia mengatakan pihaknya baru bisa memastikan kebenaran kabar tersebut pada hari Minggu (12/5), sekitar pukul 04.30, setelah salah seorang anggota MMP Nusakambangan melihat buaya muara tersebut yang diperkuat dengan foto dan video.

Dalam video yang diambil dari arah Dermaga Khusus PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (dulu PT Holcim Indonesia Tbk., red) yang berada di dekat Dermaga Wijayapura, Cilacap, terlihat seekor buaya muara sedang berenang di perairan antara Pulau Nusakambangan dan kota Cilacap.

Demikian pula dalam foto yang diambil dari atas perahu ke arah Dermaga Khusus PT Solusi Bangun Indonesia Tbk., terlihat seekor buaya yang sedang berenang di perairan sekitar Nusakambangan.

Terkait dengan hal itu, Tarmuji mengimbau nelayan di sekitar Bengawan Donan, Jojok, Kampung Laut, dan Sentolo Kawat, Cilacap, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap buaya muara tersebut.

“Buaya muara yang diperkirakan berasal dari muara Sungai Citanduy, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, itu bisa berkeliaran ke Kampung Laut hingga ‘jongoran’ Teluk Penyu di dekat Benteng Pendem,” kata dia yang juga Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang, Pantai Teluk Penyu.

Terkait dengan kejadian itu, dia mengatakan pihaknya telah melaporkan kemunculan buaya muara tersebut ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah Seksi Konservasi II Wilayah II Pemalang-Cilacap Resor Konvervasi Wilayah Cilacap.

“Kami masih menunggu instruksi lebih lanjut dan rencananya pada hari Senin (13/5), kami akan melakukan penyisiran bersama BKSDA,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Koordinator Polisi Kehutanan (Polhut) BKSDA Jateng Resor Konservasi Wilayah Cilacap Endi Suryo Heksianto mengatakan pihaknya masih berkonsultasi dengan pimpinan BKSDA terkait dengan tindakan yang akan dilakukan terhadap buaya muara tersebut.

Buaya di Laut Cilacap

Menurut dia, pihaknya melakukan tindakan sementara di lapangan dengan memantau pergerakan buaya muara tersebut.

“Kita ingin tahu perilaku buaya ini biasanya berada di mana, langkah berikutnya menunggu koordinasi dari pimpinan,” katanya.

Dengan demikian ketika buaya muara tersebut akan ditangkap, kata dia, pihaknya sudah memiliki data perilaku satwa tersebut.

Disinggung mengenai dugaan buaya muara tersebut berasal dari Sungai Citanduy, dia mengatakan pihaknya belum bisa memastikannya karena masih mencari informasi lebih lanjut.

“Kemarin (Sabtu) sore, kami betul-betul menyaksikan itu (buaya) ada di sekitar Donan dan Holcim. Hari ini pun teman-teman ke lapangan untuk mengecek. Mungkin hari Senin (13/5), kita akan ke lapangan bersama mitra kami, Mitra Polhut, di Nusakambangan untuk mencari informasi yang lebih banyak,” katanya.

Asal Mula Bulak Cinta di Desa Patimuan Cilacap Barat Tempat Wisata Mancing dan Pacaran

  Desa Cinyawang

 BULAK CINTA DI DESA PATIMUAN

Kompasko Di sebuah Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap  Jawa Tengah terdapat jalan desa yang menghubungkan Desa Cinyawang dan desa Patimuan Kurang Lebih sepanjang 300 Meter yang berada di tengah-tengah persawahan semenjak Tahun 2016 Jalan  ini telah Teraspal dengan Bagus dengan menggunkan dana desa setempat, Namun siapa sangka hingga tahun 2018 jalan ini di kenal dengan sebutan  Bulak Cinta .

Bulak yang berarti Jalanan tanpa ada Tempat untuk singgah yang tidak ada Pemikiman warga di pinggirnya melainkan perkebunan atau persawahan di antaranya memang sedikit aneh  kedengarannya jika di Tambahkan Cinta heheh. 

Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan senantiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke-21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut: 
  1. Perasaan terhadap keluarga
  2. Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
  3. Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
  4. Perasaan yang hanya merupakan kemauan, keinginan hawa nafsu, atau cinta eros
  5. Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang 
Dalam point ke 3 mungkin rada masuk ya Perasaan yang romantis, bagaimana tidak romantis di tempat itu (Bulak Cinta) jika sore hari suasana nya sangat indah dan sejuk angin sepoi-sepoi apalagi dengan pemandangan Persawah an yang begitu luas apalagi di musim padi sedang menghijau di tambah lagi dengan tempat yang sepi yaris tidak ada polusi udarah.

Bayak  Milinial yang masih sekolah biasanya setelah pulang sekolah banyak yang berhenti sejenak di tempat ini untuk berkumpul dengan teman temannya. Bahkan ada juga yang memanfaatkan tempat ini untuk Berpacaran.

Ternyata tidak cuman anak remaja saja Banyak loh orang dewasa bahkan Bpak-bapak dan Ibu-ibu memanfaatkan tempat ini untuk sekedar Jalan santai dan lari pagi sebagaian besar sih orang-orang mampir ke bulak cinta tak lain hanya untuk berfoto selfie.

Tentu dengan kondisi seperti ini Bulak cinta juga memiliki Sektor ekonomi yang belum di serap oleh sebagaian besar pedagang pinggiran atau Warkop, Kopi keeliling pun tidak ada, terkadang hanya terdapat Penjual Es Tung-tung dan Cilok Goreng saja yang mangkal sejenak di tempat ini, Bagi kalian yang ingin memanfaatkan untuk mencari rizki tentu bisa berdagang di tempat ini ketik sore hari, apalagi jika musim Tanam dan panen tiba maka dagangan juga akan ramai di karenakan para petani yang kelelahan pasti membeli makanan atau minuman.

Keesimpulannya awal tempat ini di sebut bulak cinta yaitu karena banyaknya kaum remaja yang berkumpul di tempat ini untuk sekedar nongkrong dan berpacaran.

FOTO_FOTO BULAK CINTA